TANYA: Benarkah puasa tanggal 9 Dzulhijjah harus mengacu kepada wuquf di Arafah?
JAWAB: Dikutip dari rumahfiqih.com, memang ada sebagian
orang yang berpandangan bahwa ada korelasi kuat dan mengikat antara
puasa tanggal 9 Dzulhijjah dengan peristiwa wuquf di Padang Arafah.
Seolah-olah puasa sunnah itu harus mengacu kepada kejadian wuquf. Lalu
puasa itu harus mengikuti wuqufnya.
Kalau wuquf hari Rabu di Arafah,
maka orang sedunia harus ikut jadwal itu dengan berpuasa pada hari Rabu.
Sebaliknya bila di Arafah wuquf hari Selasa misalnya, maka umat Islam
sedunia harus berpuasa di hari Selasa.
Padahal kalau kita rujuk kepada bagaimana proses pensyariatan puasa
tanggal 9 Dzulhijjah dan wuquf di Arafah, sesungguhnya kita akan
menemukan faktwa bahwa antara kedua jenis ibadah itu sama sekali tidak
ada kaitannya. Kita tidak menemukan dalil yang mewajibkan puasa dengan
cara ikut orang wuquf atau sebaliknya.
Karena kedua jenis ibadah itu
disyariatkan secara terpisah dan sendiri-sendiri.
Puasa sunnah pada tanggal 9 Dzulhijjah itu sudah disyariatkan jauh
sebelum Nabi SAW berhaji dan melaksanakan wuquf.
Puasa itu menurut
banyak riwayat telah mulai disyariatkan sejak tahun kedua hijriyah. Di
tahun itu ada beberapa jenis ibadah yang berbarengan disyariatkan,
seperti puasa bulan Ramadhan, Shalat Idul Fithr dan Idul Adha serta
puasa tanggal 9 Dzulhijjah.
Sedangkan wuquf yang dilakukan oleh Rasulullah SAW belum disyariatkan
di masa itu. Sebab Nabi SAW dalam posisinya sebagai pembawa wahyu dari
langit baru berhaji di tahun kesepuluh hijriyah. Ada rentang waktu
kurang lebih sembilan tahun lamanya.
Artinya ketika di tahun-tahun
kedua, ketiga hingga kesembilan Dzulhijah, Rasulullah SAW dan para
shahabat melaksanakan puasa sunnah, pada saat itu di Arafah tidak ada
jamaah haji yang wuquf. Arafah saat itu kosong tidak ada ritual haji.
Kalau puasa sunnah tanggal 9 Dzulhijjah harus mengacu kepada acara
ritual wuquf di Arafah, maka seharusnya Nabi SAW dan para shahabat tidak
perlu berpuasa sunnah tanggal 9 Dzulhijjah.
Memang benar bahwa bangsa Arab sejak masa Nabi Ibrahim alaihissalam
masih menjalankan ibadah haji. Dan salah satu ritualnya adalah wuquf di
Arafah. Namun penting sekali untuk dicatat disini bahwa bangsa Arab
sebelum Rasulullah SAW melaksanakan haji tidaklah berhaji di bulan
Dzulhijjah.
Mereka terbiasa mengubah dan mengotak-atik jadwal ritual
haji tiap tahunnya. Kadang haji mereka selenggarakan di bulan
Dzulqa’dah, kadang di bulan Syawwal dan seringkali di bulan-bulan
lainnya.
Dan karena itulah maka Allah SWT menyalahkan bangsa Arab yang suka
menggonta-ganti jadwal ibadah haji tiap tahun.
Di dalam Al-Quran Allah
SWT berfirman :
Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah
kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan
itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada
tahun yang lain, agar mereka dapat mensesuaikan dengan bilangan yang
Allah mengharamkannya maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan
Allah. (Setan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang
buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang
kafir. (QS. At-Taubah : 37)
Ketika menafsirkan ayat ini, Al-Imam Al-Qurtubi (w. 671 H) dalam
kitab tafsirnya Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran menukilkan komentar dari
mufassir besar yaitu Mujahid sebagai berikut :
Orang-orang musyrik terbiasa melaksanakan haji untuk tiap bulan dua
tahun dua tahun. Haji di bulan Dzulhijjah dua tahun, lalu haji di bulan
Muharram dua tahun, kemudian haji di bulan Shafar dua tahun, dan
begitulah seterusnya, sehingga haji yang dilakukan Abu Bakar sebleum
haji Wada’ jatuh pada bulan Dzul-Qa’dah di tahun kesembilan hijriyah.
Tahun depannya, Nabi SAW berhaji jatuh di bulan Dzulhijjah. Disitulah
beliau SAW bersabda,”Zaman telah berputar.”
Dari tafsir ini kita mendapat kesimpulan penting bahwa ternyata
bangsa Arab jahiliyah meskipun berhaji dan wuquf di Arafah juga, namun
jadwalnya bukan di bulan Dzulhijjah, dan tentunya tanggalnya pun juga
bukan tanggal sembilan.
Populer
-
Ibnu Mas’ud berkata bahwasannya Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya salah satu tanda kiamat adalah bila masjid-masjid dianggap sebag...
-
Dalam sejarah peradaban Islam, banyak pihak baik personal maupun kelompok yang masuk Islam, menjadi Mualaf, ketika Islam menyentuh sisi ...
-
PADA suatu ketika Nabi Sulaiman a.s. duduk di pinggir danau, kemudian tampaklah seekor semut membawa sebutir gandum menuju ke tepi danau....
-
Upaya aksi kudeta yang dilancarkan sebagian kecil anggota Militer Turki mendapatkan penolakan keras dari masyrakat Turki. Sebaliknya du...
-
PARA ulama membagi Tanda-tanda Akhir Zaman menjadi dua. Ada Tanda-tanda Kecil dan ada Tanda-tanda Besar Akhir Zaman. Tanda-tanda Kecil ...
-
MUNGKIN diantara kita atau kebanyakan kita, ketika memotong kuku asal-asalan—mulai dari tangan kiri atau kanan, pokoknya tak beraturan. ...
-
DALAM hidup ini kita memerlukan keberkahan dalam segala hal, termasuk dalam hal bekerja. Agar kerja kita berkah, terdapat beberapa syara...
-
MENJELANG hari raya Idul Adha, umat Islam yang tidak melakukan ibadah haji disunnahkan untuk berpuasa di hari arafah. Puasa tersebut dil...
-
Muhammad bin Abdullah mengalami mimpi yang menjadi nyata. Setelah beberapa kali mimpi, ia memiliki kebiasaan baru, menyendiri di Gua Hira. D...
-
SEORANG artis di sebuah perhelatan kontes nyanyi mengatakan bahwa “sakit itu tidak profesional.” Well, berlepas dari bahwa kita dilingku...