Ya’juj dan Ma’juj sudah ada saat ini. Allah Ta’ala juga berfirman bahwa mereka adalah kaum yang suka berbuat kerusakan di muka bumi.
Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Soal :
Fadhilatus Syaikh, telah tersebar dari Syaikh Abdurrahman ibn As Sa’di rahimahullah ‘alaihi
bahwasanya beliau berkata telah nampak kaum Ya’juj dan Ma’juj dan
sesungguhnya mereka adalah bangsa Cina.
Setelah merujuk pada tafsir
(yang ditulis oleh As Sa’di) beliau hanya menjelaskan bahwa Ya’juj dan
Ma’juj akan keluar di akhir zaman dan bahwasanya mereka akan melakukan
pengrusakan di muka bumi, dan keluarnya mereka adalah diantara
tanda-tanda besar hari kiamat.
Maka apakah As Syaikh (As Sa’di) meralat
perkataannya yang pertama ataukah ada dua pendapat dalam masalah ini?
Dan pendapat mana yang Anda rajihkan dalam perkara ini? Jazakumullah khaira.
Jawab :
As Syaikh ‘Abdurrahman ibn As Sa’diy rahimahullah
adalah guru kami, dan banyak orang menukil terkait apa yang dinisbatkan
sebagai pendapat beliau bahwasanya Ya’juj dan Ma’juj adalah bangsa Cina
yaitu bangsa yang ada di balik pegunungan Kaukasus.
Pada dasarnya, beliau rahimahullah tidak
pernah berkata sesuatu apapun kecuali dengan membawakan dalil bersumber
dari Al Qur’an dan As Sunnah, dan dengan menyertakan perkataan ulama
sebelumnya.
Akan tetapi kalangan pengikut hawa nafsu mereka menempelkan
argumen selemah jaring laba-laba dalam upayanya untuk menyamarkan apa
yang telah dijelaskan oleh Allah Ta’ala, dengan maksud karena hasadnya
mereka kepada beliau.
Maka sesungguhnya guru kami rahimahullah tidaklah berkata bahwa Ya’juj dan Ma’juj baru akan keluar di akhir zaman, bahkan Ya’juj dan Ma’juj sudah ada di zaman sekarang ini.
Tidak mungkin perkataan ini keluar berdasarkan akal semata terlebih
lagi dari seorang berilmu yang kapasitasnya diakui sebagai Al ‘Allamah di zamannya rahimahullah, sesungguhnya beliau berkata,
“Sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj telah ada saat ini, dan Al Qur’an menunjukkan akan hal itu. Allah Ta’ala berfirman tentang Dzulqarnain,
حَتَّى إِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَطْلُعُ عَلَى قَوْمٍ لَمْ نَجْعَلْ لَهُمْ مِنْ دُونِهَا سِتْراً * كَذَلِكَ وَقَدْ أَحَطْنَا بِمَا لَدَيْهِ خُبْراً * ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَباً يعني: سار حَتَّى إِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِنْ دُونِهِمَا قَوْماً لا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلاً * قَالُوا
يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي
الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجاً عَلَى أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا
وَبَيْنَهُمْ سَدّاً
“Hingga ketika dia sampai di tempat terbit
matahari (sebelah timur) didapatinya (matahari) bersinar di atas suatu
kaum yang tidak Kami buatkan suatu pelindung bagi mereka dari (cahaya)
matahari itu.Demikianlah, dan sesungguhnya Kami mengetahui segala
sesuatu yang ada padanya (Dzulkarnain). Kemudian dia menempuh suatu
jalan (yang lain lagi). Hingga ketika dia sampai di antara dua gunung,
didapatinya di belakang kedua gunung itu suatu kaum yang hampir tidak
memahami pembicaraan. Mereka berkata, “Wahai Dzulkarnain! Sungguh,
Ya’juj dan Ma’juj itu (sekelompok manusia) yang berbuat kerusakan di
bumi, maka bolehkah kami membayarmu imbalan agar engkau membuatkan
dinding penghalang antara kami dan mereka” (QS. Al Kahfi : 90-94).
Berdasarkan ayat di atas, Ya’juj dan Ma’juj sudah ada saat ini. Allah Ta’ala
juga berfirman bahwa mereka adalah kaum yang suka berbuat kerusakan di
muka bumi, maka kaum itu memberikan harta mereka supaya Dzulqarnain
membuatkan pembatas antara mereka dan Ya’juj Ma’juj. Maka Dzulqarnain
pun menjawab,
آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ
“Berilah aku potongan-potongan besi!” (QS. Al Kahfi : 96).
Mereka pun membawakan besi dan akhirnya tersusunlah
besi itu satu sama lain hingga dinding itu rata tingginya di antara
kedua puncak gunung. Dzulqarnain pun meminta dibawakan potongan besi
yang dilelehkan dan dituangkan dari atas dinding itu. Jadilah dinding
itu layaknya gunung dari besi.
فَمَا اسْطَاعُوا أَنْ يَظْهَرُوهُ
“Maka mereka pun (Ya’juj dan Ma’juj) tidak dapat mendakinya” (QS. Al Kahfi : 97).
Mereka tidak dapat mendakinya karena tingginya
dinding, tidak pula dapat menggalinya karena bahannya terbuat dari besi.
Dzulqarnain pun berkata,
هَذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقّاً
“Ini adalah rahmat dari Rabbku maka apabila janji
Tuhanku sudah datang, Dia akan menghancurluluhkannya; dan janji Tuhanku
itu adalah benar” (QS. Al Kahfi : 98).
وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ
“Dan pada hari itu Kami biarkan mereka (Ya’juj dan Ma’juj) berbaur antara satu dengan yang lain” (QS. Al Kahfi : 99).
Alhasil, bahwasanya guru kami rahimahullah tidak memiliki dua pendapat dalam masalah ini. Bahkan hanya ada satu pendapat berdasarkan dalil dari Kitabullah ‘azza wa jalla dan demikian pula pendapat ulama lain.
Bahkan sesungguhnya Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam menetapkan hal tersebut, beliau bersabda,
يقول الله تعالى: يا آدم –يعني: يوم القيامة– فيقول: لبيك وسعديك. فيقول: أخرج من ذريتك بعثاً إلى النار. قال: يا ربِّ وما بعث النار؟ قال: تسعمائة وتسعة وتسعون من كل ألف) يعني: تسعمائة وتسعة وتسعين من بني آدم كلهم في النار وواحد في الجنة، (فَكَبُر ذلك على الصحابة وعظم عليهم وقالوا: يا رسول الله! أين ذلك الواحد؟ قال: أبشروا فإنكم في أمتين ما كانتا في شيء إلا كثرتاه يأجوج ومأجوج
Allah berfirman, “Wahai Adam. Ia pun menjawab, “Ya, aku memenuhi panggilan-Mu”. Allah berfirman, “Keluarkanlah ba’tsun naar (utusan neraka)!” Ia bertanya, “Apakah ba’tsun nar itu?”
Allah berfirman, “Dari setiap 1000 orang, 999 orang sebagai menghuni
neraka (sehingga 1 orang masuk surga -pent). Para shahabat pun gempar
dan bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah di antara kami yang termasuk
satu orang (yang satu) itu?” Beliau bersabda, “Bergembiralah!
Sesungguhnya dari kalian satu orang dan dari Ya`juj dan Ma`juj seribu
orang”. (HR. Bukhari).
Hadits ini jelas menunjukkan bahwa :
-
Ya’juj dan Ma’juj termasuk dari kalangan anak Adam
-
Ya’juj dan Ma’juj masuk neraka seluruhnya
-
Ya’juj dan Ma’juj sudah ada saat ini menurut pandangan kami berdasarkan dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah. Akan tetapi mereka yang telah ada saat ini bukanlah mereka yang nanti akan keluar di akhir zaman. Bahkan akan datang kaum yang lahir belakangan, mereka keluar di akhir zaman dan berbuat kerusakan di muka bumi sebagaimana kerusakan yang diperbuat nenek moyang mereka.
